Risalahpost.com
Risalahpost.com Jendela Suara Umat

Jejak Berusia Satu Juta Tahun: Menguak Misteri Penghuni Purba di Lembah Walannae

Penemuan tujuh artefak batu di lapisan pasir purba Situs Calio, Lembah Walannae, Kabupaten Soppeng, membuktikan jejak kehadiran manusia purba di Sulawesi telah berlangsung lebih dari satu juta tahun lalu. Temuan di kawasan museum alam ini membuka babak baru dalam riset migrasi dan adaptasi hominin prasejarah di kawasan Wallacea.

F
Faruq
18 Oktober 2026, 08:27 WITA
Bagikan:
Batu berlubang prasejarah di Lembah Walanae.
Batu berlubang prasejarah di Lembah Walanae. Foto: Kompas.id

SOPPENG — Bentang alam Lembah Walannae di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum riset prasejarah terpenting di kawasan Asia Tenggara. Kawasan yang dibelah oleh aliran Sungai Walannae ini kerap dijuluki para ahli sebagai sebuah "museum alam terbuka" lantaran menyimpan lapisan sedimentasi kaya fosil dan peninggalan kebudayaan masa lampau. Melalui penelitian arkeologis mendalam, kawasan ini terus menyingkap misteri kehadiran hominin purba yang jejaknya kini terbukti membentang hingga melampaui kurun waktu satu juta tahun yang lalu.

Bukti ilmiah terbaru tersebut terungkap melalui penemuan mutakhir di Situs Calio, salah satu titik ekskavasi penting di wilayah Soppeng. Di lokasi endapan purba ini, tim peneliti dan arkeolog sukses mengekskavasi tujuh artefak batu yang terpendam kokoh di dalam lapisan pasir dasar sungai prasejarah. Penemuan perkakas batu tersebut menjadi tonggak sejarah baru dalam penelitian paleoantropologi Nusantara, sekaligus memberikan indikasi kuat bahwa manusia purba telah menjejakkan kaki dan beraktivitas di daratan Pulau Sulawesi jauh lebih awal daripada perkiraan sebelumnya.

Kondisi geologis Lembah Walannae mencerminkan lingkungan masa lalu yang subur dan menyediakan sumber daya melimpah bagi kelangsungan hidup makhluk purba. Di sepanjang bantaran sungai purba tersebut, kelompok manusia arkaik tidak sekadar singgah melainkan beradaptasi, berburu, memanfaatkan batuan sungai untuk perkakas, dan membentuk jalur migrasi alami. Keberadaan artefak batu yang tertanam dalam stratigrafi sungai menandakan adanya proses adaptasi perkakas yang cermat terhadap lingkungan lembah fluvial kala Pleistosen.

Secara kronologis dan biogeografis, Sulawesi selalu memegang peranan krusial namun penuh misteri dalam teori penyebaran fauna dan hominin purba di kawasan Wallacea. Pulau ini dipisahkan oleh laut dalam dari Paparan Sunda, sehingga kehadiran perkakas batu berusia lebih dari satu juta tahun di Situs Calio memicu kajian baru mengenai kemampuan navigasi atau jalur perlintasan alami yang memungkinkan hominin awal melintasi rintangan air purba tersebut.

Eksplorasi yang terus bergulir di Lembah Walannae membuktikan bahwa potensi riset prasejarah di kawasan ini masih menyimpan babak-babak penting yang belum seluruhnya terbaca. Artefak yang diangkat dari Situs Calio membuka cakrawala pemahaman baru bagi akademisi nasional maupun global mengenai peta evolusi, kebudayaan alat batu, serta pola migrasi awal manusia di belahan kepulauan Indonesia bagian timur.

Bagikan Artikel Ini

Sampaikan informasi bermanfaat ini kepada orang terdekat Anda.