Risalahpost.com
Risalahpost.com Jendela Suara Umat

Teror Subuh di Bilik Santriwati: Kronologi Penggeledahan Ponpes Sukoharjo Berujung Trauma

Penggeledahan di Ponpes Ma’had Hamalatul Quran Sukoharjo menuai kecaman usai aparat bersenjata mendobrak asrama putri, menodongkan senjata, dan membentak santriwati. Polisi mencari DPO terorisme pembakaran warung, namun santriwati terbukti tidak terlibat. Barang ekskul panahan dan aset jutaan rupiah turut disita belum kembali.

F
Faruq
01 November 2026, 07:33 WITA
Bagikan:
Suasana pencekaman para santriwati bercadar saat aparat kepolisian bersenjata mendatangi Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, Sukoharjo, menjelang subuh
Suasana pencekaman para santriwati bercadar saat aparat kepolisian bersenjata mendatangi Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, Sukoharjo, menjelang subuh Foto: arrahmah.id

SUKOHARJO — Keheningan Pondok Pesantren Ma’had Hamalatul Quran di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mendadak pecah pada Selasa dini hari, 27 Oktober 2026. Puluhan aparat kepolisian bersenjata laras panjang mendatangi pesantren putri tersebut untuk melakukan penggeledahan paksa. Alih-alih berlangsung tertib, tindakan aparat kepolisian gabungan dari jajaran Polda Jawa Tengah dan Polres Sukoharjo itu menuai protes keras dari pihak pengelola pondok karena dinilai represif dan menimbulkan trauma mendalam bagi belasan santriwati di bawah umur.

Sekretaris Pondok Pesantren Ma’had Hamalatul Quran, Diyana Indah Sari, membeberkan kronologi mencekam yang terjadi sekitar pukul 03.20 WIB tersebut. Menurut penuturannya, rombongan personel berseragam taktis dan Brimob tiba di asrama saat seluruh penghuni masih terlelap. Karena pintu gerbang tidak kunjung dibuka dari dalam, aparat merangsek masuk dengan cara mendobrak pintu utama.

Suara dobrakan keras itu mengejutkan 16 penghuni pondok yang terdiri dari 12 santriwati dan 4 ustazah. Para santriwati yang panik dan belum sempat mengenakan jilbab berupaya menyelamatkan diri ke kamar pengasuh. Namun, aparat mendobrak pintu kamar ustazah hingga nyaris hancur. Petugas kemudian menarik paksa para santriwati ke luar ruangan di bawah todongan senjata laras panjang.

Diyana mengungkapkan, aparat memperlakukan para santriwati secara intimidatif. Mereka dipaksa tiarap, dibentak dengan nada tinggi, dan diminta memperlihatkan bagian rambut untuk memastikan identitas gender mereka. Bahkan, petugas sempat memegang wajah beberapa santriwati sembari mencecar pertanyaan mengenai jenis kelamin mereka berulang kali di tengah kondisi pakaian yang belum layak.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, aksi penggerebekan ini berkaitan erat dengan pengembangan kasus pembakaran sebuah warung makan babi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, yang diduga melibatkan jaringan kelompok terorisme. Aparat tengah memburu seorang tersangka yang telah masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO) berinisial I. Penyelidikan intelijen dan bukti rekaman kamera pengawas (CCTV) mengarahkan polisi ke area sekitar pesantren yang dicurigai menjadi titik pelarian sang buron.

Kendati demikian, proses penggeledahan tidak menemukan keterlibatan pondok pesantren maupun para santriwati dalam aksi pembakaran kedai maupun sindikat terorisme. Terkait temuan busur panah, anak panah, dan satu unit drone yang disita polisi, pihak pesantren menegaskan bahwa seluruh peralatan tersebut murni sarana kegiatan ekstrakurikuler panahan santri. Pihak pondok juga menyayangkan penyitaan aset pribadi serta inventaris pesantren senilai puluhan juta rupiah yang hingga kini belum dikembalikan oleh pihak kepolisian.

YouTube Tonton Video Terkait
Buka Sumber

Bagikan Artikel Ini

Sampaikan informasi bermanfaat ini kepada orang terdekat Anda.