Hasil survei nasional terbaru yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 17 Oktober 2026 memicu perbincangan hangat di tengah dinamika politik nasional. Berdasarkan data yang dihimpun pada periode 1 hingga 10 Oktober 2026, tingkat keterpilihan Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi semi terbuka mengalami penurunan yang sangat signifikan. Elektabilitas petahana merosot tajam ke angka 9,8 persen, sebuah angka yang kontras jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 34,9 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa penurunan tersebut merupakan tren koreksi terberat yang dialami dalam dua tahun masa pemerintahan. Dalam simulasi semi terbuka yang menyodorkan 24 nama kandidat potensial, posisi puncak kini justru direbut oleh Dedi Mulyadi yang meraup 35,5 persen suara. Sementara itu, Anies Baswedan mengekor di posisi kedua dengan perolehan 10,3 persen, menempatkan Prabowo di urutan ketiga di bawah bayang-bayang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mengantongi 8,4 persen.
Lebih lanjut, dinamika elektoral ini juga tecermin dari perbandingan performa dalam beberapa bulan terakhir. SMRC mencatat bahwa dalam kurun waktu tujuh bulan kepemimpinan, elektabilitas Prabowo terus terkoreksi dari 33,3 persen pada periode Februari-Maret 2026. Di sisi lain, tren elektoral Dedi Mulyadi justru melesat naik secara konsisten dari 23,3 persen ke angka tertingginya saat ini. Dalam simulasi head-to-head, Dedi Mulyadi bahkan diproyeksikan unggul telak atas Prabowo. Loyalitas basis pemilih partai pengusung utama juga dilaporkan mengalami pergeseran signifikan ke figur alternatif.
Tekanan politik terhadap lingkar kekuasaan tidak hanya datang dari preferensi pemilih akar rumput. Dalam studi evaluasi elitis terpisah yang melibatkan 200 opinion leaders—yang terdiri dari 166 akademisi kampus dan 34 wartawan senior—kualitas kepemimpinan keluarga mantan Presiden Joko Widodo mendapat sorotan tajam. Para responden diminta menilai 31 tokoh nasional berdasarkan 10 indikator kepemimpinan yang ketat, mulai dari kompetensi, integritas, empati, hingga komitmen terhadap demokrasi.
Hasil penilaian kaum intelektual tersebut menempatkan putra-putra Jokowi di posisi terbawah. Gibran Rakabuming Raka tersungkur di peringkat ke-30 dari 31 tokoh dengan perolehan skor rata-rata yang sangat rendah, yakni 4,4 dari skala 10. Angka tersebut terpaut jauh di bawah tokoh-tokoh lain seperti Mahfud MD maupun Anies Baswedan. Posisi juru kunci mutlak atau peringkat ke-31 nasional ditempati oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang memperoleh skor kepemimpinan paling jeblok sebesar 4,0.
Pendiri SMRC, Saiful Mujani, memberikan catatan kritis bahwa rendahnya apresiasi dari kalangan intelektual ini mengindikasikan legitimasi politik duo Gibran-Kaesang selama ini lebih ditopang oleh faktor popularitas artifisial dan mesin kekuasaan, alih-alih substansi kapasitas kepemimpinan transformatif. Survei nasional SMRC ini sendiri melibatkan 1,213 responden yang dipilih melalui metode random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Kombinasi antara merosotnya dukungan elektoral publik dan rapor merah dari para pakar ini dinilai menjadi sinyal darurat yang menuntut evaluasi serius terhadap stabilitas serta arah kebijakan politik nasional ke depan.