RIYADH – Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali diserang pada Minggu (11/10). Satu orang meninggal dan 11 lainnya luka-luka. Serangan ini terjadi sehari setelah insiden serupa yang menewaskan 12 orang dan melukai ratusan lainnya.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan bahwa bandara tersebut menjadi sasaran serangan baru pada Minggu sore. Korban tewas diketahui berkewarganegaraan Pakistan.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi menyebut sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara. Rincian lebih lanjut belum disampaikan.
Houthi Klaim Tanggung Jawab
Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran mengaku berada di balik serangan itu. Mereka mengklaim telah melakukan empat operasi dalam 24 jam terakhir dengan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Menurut juru bicara Houthi, sasarannya adalah bandara di Riyadh dan Dammam di Arab Saudi bagian timur, serta dua fasilitas milik perusahaan minyak nasional Aramco. Pemerintah Saudi pada Minggu malam membenarkan adanya serangan ke bandara Dammam.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Houthi mengimbau maskapai, pekerja, dan wisatawan menjauhi bandara dan wilayah udara Arab Saudi. Mereka menyebut kawasan tersebut sebagai area operasi pasukannya. Houthi menegaskan bandara di Makkah dan Madinah tidak akan diserang, serta menyatakan Arab Saudi bertanggung jawab atas kegagalan menangkis serangan.
Latar Belakang Eskalasi
Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi meningkatkan keterlibatan militernya di Yaman. Riyadh menyerang posisi Houthi dan mendukung serangan balasan pemerintah Yaman, setelah pemberontak merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah bulan lalu, termasuk area di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Otoritas kesehatan yang dikelola Houthi mengklaim 91 warga Yaman tewas akibat serangan koalisi dalam lima pekan terakhir, 60 persen di antaranya perempuan dan anak-anak. Pada Minggu, otoritas yang sama menyebut seorang anak tewas dan enam orang luka dalam dugaan serangan udara Saudi ke sebuah rumah di Sana’a. Televisi Al Masirah yang dikelola Houthi juga melaporkan bandara internasional Sana’a diserang pada Minggu sore. Pihak Saudi belum menanggapi klaim tersebut.
Kementerian Luar Negeri versi Houthi memperingatkan situasi bisa memburuk jika Saudi tidak menghentikan apa yang disebutnya agresi dan campur tangan di Yaman. Mereka menyatakan akan bertindak berdasarkan prinsip timbal balik.
Koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman menyebut serangan itu “kejahatan perang yang sepenuhnya nyata” dan berjanji merespons dengan tegas.
Konflik Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional telah berlangsung lebih dari satu dekade. Gencatan senjata 2022 sempat meredakan pertempuran, tetapi tidak berujung pada perdamaian yang langgeng. Perang antara AS-Israel dan Iran disebut kembali memicu kekerasan di Yaman dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Reaksi Internasional
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (10/10) menyebut serangan itu tidak dapat diterima. Ia mengatakan akan berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan mempertimbangkan bergabung dalam serangan Saudi terhadap Houthi.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan dukungan bagi Arab Saudi dan mengecam eskalasi tersebut. Menurutnya, serangan kelompok proksi Iran mendorong kawasan ke lingkaran kekerasan dan mengganggu jalur transportasi serta pusat energi dunia.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebut serangan itu sebagai terorisme terhadap Arab Saudi dan penerbangan sipil. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyebutnya tindakan tercela dan eskalasi berbahaya, sementara Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan solidaritas penuh dengan Riyadh.
Rusia, mitra strategis Iran, turut mengecam serangan itu dan meminta konflik diselesaikan lewat jalur politik dan diplomasi. Australia mengimbau warganya di Riyadh tetap berlindung di tengah meningkatnya serangan.