Musim panen zaitun di Tepi Barat yang diduduki tahun ini diwarnai eskalasi kekerasan dan maraknya aksi pencurian hasil bumi oleh pemukim Israel. Berdasarkan laporan Reuters, kelompok hak asasi manusia mencatat lebih dari 160 insiden pencurian zaitun dan 125 serangan fisik terhadap para petani Palestina sejak musim panen dimulai.
Ahmed Salem, seorang warga Palestina berusia 50 tahun asal desa Lubban al-gharbi, menuturkan bagaimana ia hanya bisa terdiam dan menangis saat melihat para pemukim merusak pohon-pohon zaitun miliknya menggunakan tongkat lalu membawa kabur hasil panennya. Menurut Salem dan warga setempat, buah zaitun yang dijarah tersebut diangkut ke pos-pos terdepan pemukim Israel untuk diperas menjadi minyak zaitun. Di pos Avichai Farm, minyak zaitun hasil jarahan bahkan dijual seharga sekitar 20 dolar Amerika Serikat per botol melalui situs web yang dikelola oleh Asosiasi Peternakan, sebuah kelompok pemukim yang menerima dukungan finansial signifikan dari pemerintah Israel.
Peningkatan ketegangan ini terjadi di tengah bayang-bayang pemilihan umum Israel yang krusial. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan koalisi pro-pemukimnya menghadapi tekanan politik yang kuat dari para penentang yang bersikap lebih kritis terhadap kekerasan pemukim. Di sisi lain, perluasan ratusan pos terdepan ilegal sejak 2022 telah membatasi akses warga Palestina ke kebun-kebun mereka sendiri. Direktur Eksekutif kelompok hak asasi Israel Yesh Din, Ziv Stahl, menyatakan bahwa pembatasan militer ini menciptakan situasi di mana warga Palestina dilarang masuk, sementara para pemukim dapat keluar masuk dengan bebas.
Respons dari kalangan tokoh agama Yahudi terhadap fenomena ini terbelah. Zev Weitman, seorang rabi dari permukiman Alon Shvut, secara tegas mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai perampokan atau pencurian yang dilarang. Sebaliknya, rabi ortodoks terkemuka Dov Lior justru mendukung para pemukim untuk memanen di seluruh wilayah Tepi Barat dengan klaim bahwa tanah tersebut tidak memiliki hak kepemilikan bagi warga Palestina.
Dampak dari eskalasi ini dirasakan secara langsung dalam bentuk korban jiwa dan luka-aroma kekerasan harian. Otoritas Palestina melaporkan bahwa tiga warga Palestina tewas akibat serangan pemukim selama musim panen berlangsung, sementara beberapa jurnalis dan diplomat asing turut menjadi korban luka. Bagi para petani seperti Samer Ben Shamsi dari desa Beita dekat Nablus, ancaman tersebut bahkan berwujud kekerasan fisik yang berulang. Para petani menegaskan bahwa hilangnya akses dan hasil kebun mereka bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan ancaman eksistensial di tanah leluhur mereka sendiri.