Risalahpost.com
Risalahpost.com Jendela Suara Umat

Peluang Republik Meredup Jelang Pemilu Sela, Trump Salahkan Penasihat Senior dan Strategi Kampanye

Donald Trump menyalahkan penasihat seniornya atas meredupnya peluang Partai Republik jelang pemilu sela. Evaluasi tajam tertuju pada efektivitas belanja dana kampanye $200 juta dan strategi dapil, sementara jajak pendapat memprediksi Demokrat berpeluang merebut kendali DPR AS di tengah merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintah.

A
Alfakir99
18 Oktober 2026, 05:07 WITA
Bagikan:
Survei kepuasan terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurun drastis
Survei kepuasan terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurun drastis Foto: afu.id

WASHINGTON — Di tengah kekhawatiran meredupnya peluang Partai Republik mempertahankan dominasi di Kongres Amerika Serikat pada pemilu sela (midterm), Presiden Donald Trump dilaporkan meluapkan kekecewaannya kepada jajaran penasihat senior dan operator politiknya. Tiga sumber internal mengungkapkan bahwa Trump mulai mempertanyakan efektivitas belanja kampanye bernilai ratusan juta dolar, efektivitas penataan ulang daerah pemilihan (redistricting), hingga pemilihan kandidat legislatif yang kini dinilai merugikan partai.

Meskipun nama Trump tidak tercantum langsung dalam surat suara pemilu 3 November mendatang, ia terus mengimbau para pendukungnya untuk bersikap seolah-olah dirinya yang sedang dipilih. Sikap ini diambil demi mendongkrak partisipasi pemilih di tengah kekhawatiran elektabilitas Partai Republik yang terus tertekan. Meski turun langsung menggelar kampanye secara maraton di berbagai wilayah kompetitif, Trump dinilai enggan mengakui bahwa merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinannya—yang dipicu oleh tingginya biaya hidup serta ketidakpuasan terhadap perang Iran—turut menjadi beban utama bagi para kandidat yang berlaga.

Ketegangan internal di lingkaran kekuasaan terutama menimpa James Blair, orang kepercayaan yang memimpin komite aksi politik pro-Trump (Super PAC) MAGA Inc., serta Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles. Trump dilaporkan menyuarakan ketidakpuasan atas pengelolaan dana oleh Blair, mengingat belanja dana sebesar $200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) gagal mendongkrak elektabilitas Republik di daerah-daerah kunci. Di sisi lain, para penasihat mulai saling lempar tanggung jawab; Wiles menuding Blair atas kegagalan strategi, sedangkan Blair menyalahkan tim urusan legislatif Gedung Putih.

Situasi internal kian memanas setelah terungkapnya aktivitas Blair dan Chris LaCivita—mantan manajer kampanye Trump 2024—yang melakukan perjalanan ke kawasan Republika Srpska di Bosnia pada awal Oktober untuk menjadi konsultan berbayar pada pemilu lokal setempat. Perjalanan yang diduga disetujui Wiles tanpa sepengetahuan Trump tersebut memicu kemarahan pejabat senior Gedung Putih, yang menilai mereka mengabaikan fokus krusial pada masa akhir kampanye pemilu sela. Menanggapi kabar tersebut, Blair menyebut polemik ini sebagai saling tuding yang kontraproduktif, sementara LaCivita membantah kritik anonim dan menegaskan timnya tetap berkomitmen penuh memenangkan Republik.

Sorotan tajam Trump juga tertuju pada strategi penataan ulang peta dapil yang sebelumnya ia dorong secara agresif, terutama di Texas. Rencana awal yang dirancang untuk mengunci kursi tambahan dengan mengandalkan suara warga Hispanik dinilai berisiko menjadi bumerang. Perubahan peta politik justru membuat sejumlah petahana rentan kehilangan kursi akibat terpecahnya kantong-kantong pemilih loyal.

Berdasarkan berbagai jajak pendapat terkini, Partai Demokrat diproyeksikan berpeluang besar merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sementara persaingan di tingkat Senat berlangsung sangat ketat. Kehilangan mayoritas kursi di Kongres dipastikan akan memukul agenda legislatif Trump pada sisa masa jabatannya serta membuka ruang penyelidikan luas dari Kongres terhadap pemerintahannya.

Bagikan Artikel Ini

Sampaikan informasi bermanfaat ini kepada orang terdekat Anda.