Risalahpost.com
Risalahpost.com Jendela Suara Umat

Zelensky Puji “Pemimpin Sejati” Eropa di Tengah Renggangnya Hubungan dengan Pemerintahan Trump

Hubungan Ukraina dan AS retak saat Zelensky memuji pemimpin Eropa di Brussels. Ketegangan dipicu polemik serangan energi, berhentinya pasokan rudal Patriot, serta kritik tajam Trump. Di tengah krisis ini, Uni Eropa justru menyiapkan sanksi baru bagi Rusia.

c
citizen reporter
16 Oktober 2026, 20:34 WITA
Bagikan:
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (tengah) didampingi Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kanan) dan Presiden Dewan Eropa António Costa (kiri) saat memberikan keterangan pers kepada awak media setibanya di KTT Uni Eropa
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (tengah) didampingi Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kanan) dan Presiden Dewan Eropa António Costa (kiri) saat memberikan keterangan pers kepada awak media setibanya di KTT Uni Eropa Foto: CNN

Hubungan antara Kyiv dan Washington kembali menghadapi ujian berat setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan pujian terbuka kepada para pemimpin Eropa di sela-sela KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia. Di hadapan para petinggi benua biru, Zelensky menyebut para pemimpin Eropa sebagai figur "sejati" yang konsisten berdiri bersama Ukraina sejak awal konflik meletus. Pernyataan tersebut sekaligus dibaca sebagai sindiran terselubung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyusul serangkaian ketegangan diplomatik yang kian memuncak dalam sepekan terakhir.

Konflik diplomatik ini dipicu oleh tekanan intensif dari Gedung Putih agar Ukraina segera menghentikan serangan terhadap fasilitas infrastruktur minyak Rusia. Tekanan tersebut datang kendati serangan udara Moskow terhadap jaringan energi Ukraina terus berlangsung tanpa henti. Setelah sempat mematuhi permintaan Amerika Serikat untuk menahan diri selama tiga hari, Zelensky akhirnya memutuskan untuk kembali melancarkan serangan balasan ke kilang minyak Rusia. Langkah ini diambil karena Moskow dinilai sama sekali tidak mengindahkan kesepakatan gencatan senjata energi yang diinisiasi oleh Washington.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump dilaporkan berada di bawah tekanan politik domestik yang besar menjelang pemilihan paruh waktu mendatang. Lonjakan harga bahan bakar global dan solar menjadi duri dalam daging bagi pemerintahannya, sementara perhatian publik juga teralihkan oleh kebijakan luar negeri AS di Iran yang kurang populer. Dalam sebuah wawancara dengan media, Trump bahkan melontarkan kritik pedas tanpa sungkan, menyebut Zelensky sebagai sosok yang sulit diajak bekerja sama dan menuding Ukraina telah menghancurkan negaranya sendiri, tanpa menyinggung invasi militer yang dilakukan oleh Rusia.

Situasi di lapangan kian pelik bagi Kyiv menyusul gangguan teknis dan diplomatik yang terjadi pekan ini. Laporan intelijen menyebutkan bahwa Ukraina mengalami pembatasan berbagi data intelijen serta gangguan pada konektivitas internet Starshield dari pihak Amerika Serikat. Lebih parah lagi, sumber terpercaya mengungkapkan bahwa stok rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS di Ukraina telah benar-benar habis. Zelensky secara terbuka mengakui bahwa negaranya saat ini bukan lagi prioritas utama pengiriman rudal pertahanan, karena sebagian besar pasokan tersebut dialihkan ke kawasan Timur Tengah.

Menanggapi krisis tersebut, para pemimpin Uni Eropa bergerak cepat memberikan dukungan politik maupun material. Blok Eropa saat ini tengah mematangkan paket sanksi ke-22 terhadap Moskow untuk meningkatkan tekanan ekonomi, sebuah langkah tegas yang kontras dengan sikap melunak di Washington. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa peningkatan tekanan terhadap Rusia adalah keharusan mutlak karena Moskow terbukti mengabaikan gencatan senjata.

Kendati berada dalam situasi diplomatik yang paling menantang, Zelensky menegaskan bahwa tim negosiasinya terus menjalin komunikasi intensif dengan pihak Amerika Serikat guna meredakan ketegangan. Pertemuan tingkat tinggi dijadwalkan akan segera digelar dalam beberapa hari ke depan demi memulihkan aliansi strategis tersebut. Di tengah ancaman musim dingin dan gempuran militer yang tak kunjung surut, Ukraina memilih untuk tetap bertahan dan menjaga martabat bangsa di kancah internasional.

Bagikan Artikel Ini

Sampaikan informasi bermanfaat ini kepada orang terdekat Anda.