MAKASSAR — Masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi atmosfer yang cukup signifikan. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca panas serta hembusan angin kencang yang diprakirakan melanda berbagai daerah pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Peringatan dini tersebut dipublikasikan secara terbuka melalui kanal komunikasi resmi BMKG sebagai langkah antisipasi dini bagi masyarakat luas maupun pemangku kepentingan di daerah. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan berpotensi mengalami kenaikan suhu udara harian yang terasa jauh lebih menyengat dibandingkan hari-hari biasanya.
Merujuk pada laporan prakiraan cuaca tersebut, tercatat sedikitnya 19 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan telah dimasukkan ke dalam kategori waspada terhadap lonjakan udara panas. Suhu maksimum di wilayah-wilayah yang masuk dalam zona waspada ini diproyeksikan berada pada rentang ambang batas antara 35 hingga mencapai 40 derajat Celsius, terutama pada rentang waktu siang hingga menjelang sore hari.
Adapun beberapa wilayah utama yang masuk dalam radar pemantauan suhu tinggi tersebut meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Barru, Bantaeng, Bone, Bulukumba, Luwu, Luwu Timur, serta Luwu Utara, disusul sejumlah kawasan hinterland lainnya di kawasan selatan dan utara provinsi ini. Kondisi suhu permukaan yang melonjak ini dipicu oleh tutupan awan yang minim serta gerak semu matahari yang memaksimalkan penerimaan radiasi surya langsung ke permukaan bumi.
Selain ancaman suhu tinggi yang menyengat, BMKG turut menyoroti potensi bahaya lain berupa peningkatan kecepatan angin. Berdasarkan peta pemodelan cuaca, terdapat 14 wilayah yang diprediksi akan diterpa angin kencang dengan kecepatan berkisar antara 20 hingga 25 knot, atau setara dengan 37 hingga 46 kilometer per jam. Kombinasi antara angin yang berhembus kencang dan tingkat kelembapan udara yang rendah dapat mempercepat pengeringan vegetasi serta memicu risiko lain di ruang terbuka.
Menyikapi perkembangan kondisi cuaca ekstrem ini, masyarakat yang hendak melakukan mobilitas atau rutinitas pekerjaan di luar ruangan disarankan untuk mengambil tindakan perlindungan diri mandiri. Penggunaan pelindung fisik seperti payung, topi bertepi lebar, pakaian berbahan sejuk, serta tabir surya sangat dianjurkan guna menghindari sengatan panas berlebih yang berisiko memicu dehidrasi maupun kelelahan akibat paparan suhu (heat exhaustion).
Masyarakat juga diimbau untuk memastikan asupan air mineral tercukupi dengan baik sepanjang hari, membatasi paparan langsung terik matahari pada jam-jam puncak, serta meningkatkan kehati-hatian terhadap risiko pohon tumbang, papan reklame yang rapuh, dan potensi timbulnya titik api di lahan kering akibat hembusan angin kencang.