Risalahpost.com
Risalahpost.com Jendela Suara Umat

Saat Bayi Pun Batuk: Menilik Titik Nadir Kebakaran Lahan di Kalimantan yang Mencekik

Kabut asap pekat akibat kebakaran lahan gambut di Kalimantan kian kritis dan meluas hingga Malaysia serta Singapura. Krisis yang diperparah El Niño ekstrem ini memicu lonjakan penyakit pernapasan, ancaman kerugian ekonomi ratusan triliun rupiah, serta desakan publik agar pemerintah segera menetapkan status bencana nasional.

F
Faruq
20 Oktober 2026, 17:06 WITA
Bagikan:
Tampak kondisi lalu lintas di Palangka Raya pada Rabu (14/10)
Tampak kondisi lalu lintas di Palangka Raya pada Rabu (14/10) Foto: bbc.com

PALANGKA RAYA — Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Kebakaran gambut yang membara di Kalimantan Tengah kini mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, memicu krisis kesehatan massal serta meningkatkan ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Di wilayah episentrum kebakaran, aroma sangit tanah hangus terus tercium menyengat, sementara kepulan asap tebal menyembur dari dalam lapisan tanah gambut yang mengering. Kondisi ini dipicu oleh fenomena "super El Niño" yang membuat muka air tanah di area gambut anjlok drastis hingga hampir tiga meter di bawah permukaan, jauh melampaui kondisi kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, lapisan gambut purba yang kaya karbon berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Krisis ini berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 25 persen. Warga mengaku terpaksa beraktivitas di bawah langit yang berubah kuning pekat karena tuntutan ekonomi, meskipun bayang-bayang gangguan pernapasan terus menghantui anak-anak dan bayi mereka. Para pakar kesehatan atmosfer memperingatkan bahaya jangka panjang dari partikel halus PM2.5 yang dapat menembus sawar darah-otak serta plasenta ibu hamil, memicu risiko kelahiran prematur hingga kerusakan saraf permanen di masa mendatang.

Dampak buruk karhutla tidak berhenti di batas geografis Indonesia. Di Malaysia, kabut asap lintas batas mengganggu aktivitas luar ruangan dan sektor pariwisata dengan estimasi kerugian mencapai 250 juta dolar AS per bulan. Sementara itu, pemerintah Singapura mulai melayangkan peringatan keras serta menindak korporasi yang diduga terkait dengan titik api di konsesi perkebunan.

Secara makroekonomi, Center of Economic and Law Studies menaksir kerugian ekonomi nasional akibat kerusakan aset dan disrupsi perdagangan berpotensi menembus angka Rp30 triliun, dengan biaya kesehatan yang membengkak hingga lebih dari Rp100 triliun. Kerusakan lingkungan pun kian parah menyusul laporan hilangnya ratusan ribu hektare tutupan hutan alami di koridor keanekaragaman hayati utama.

Sebagai langkah penanggulangan, otoritas pemadam kebakaran menguji berbagai teknologi alternatif, mulai dari penebaran bubuk pemadam impor, rencana pemanfaatan tepung singkong, hingga penaburan berton-ton es kering di udara guna mengurai partikel asap pekat. Di sisi lain, penyelidikan hukum tengah membidik sekitar 100 entitas bisnis, termasuk korporasi multinasional yang diduga terlibat praktik pembakaran demi efisiensi biaya pembukaan lahan.

Melihat skala bencana yang kian tak terkendali, gelombang unjuk rasa mahasiswa dan aktivis lingkungan terus meluas di berbagai kota, mulai dari Palangka Raya, Semarang, hingga Jakarta. Mereka menuntut pemerintah bersikap transparan, menindak tegas korporasi perusak lingkungan, serta segera mendeklarasikan status bencana nasional guna membuka akses dana darurat demi mitigasi krisis yang lebih terarah dan komprehensif.

YouTube Tonton Video Terkait
Buka Sumber

Bagikan Artikel Ini

Sampaikan informasi bermanfaat ini kepada orang terdekat Anda.